WijatmikoSaragih: March 2026

Tuesday, March 31, 2026

Kehidupan Setelah Menikah


 

Sepertinya seru juga berbicara soal kehidupan setelah pernikahan. Banyak hal-hal baru dan unik dan bahkan belum pernah kita temui. Pernikah yang menyatukan dua orang dengan pikiran berbeda, kepala berbeda, hati berbeda tentu sangat berat. Dua orang harus dapat menyatukan satu prinsip yang sama. Dua orang harus bisa menyatukan hati dan pikiran masing-masing . Saling mencintai, memahami dan tentunya harus saling mengalah satu dengan yang lainnya. Pernikahan itu jangan menganggap kita masih bisa melakukannya masing-masing lagi, semua harus dipikirkan secara bersama-sama. Contohnya berbicara soal pengeluaran, pemasukan uang, kebutuhan sehari-hari, rencana kedepan, rencana untuk persiapan hamil, biaya hidup anak dan banyak lainnya. Sehingga jika ingin siap menikah, harus siap dengan keadaan baru yaitu kehidupan setelah menikah.

Menikah juga bukan hanya menyatukan dua orang yaitu laki-laki dan perempuan, tapi juga menyatukan dua keluarga. Dimana keluarga si laki-laki menjadi keluarga pihak perempuan, begitu juga sebaliknya. Bakal makin banyak pihak keluarga yang akan kenal. Semakin banyak keluarga enak dong, semakin banyak relasi dan banyak yang peduli? Iya sudah pasti. Namun ada juga terkadang keluarga menjadi satu yang cukup berat. Kita harus lebih banyak mikirkan banyak orang juga. Peduli sama keluarga apalagi orang tua memang sudah wajib hukumnya, namun ingat yang paling utama adalah peduli dengan keluarga baru kita yaitu keluarga yang baru dibangun ini. Keluarga yang diibaratkan sebuah rumah kosong, yang butuh diisi dengan kelengkapannya. Kita harus secara perlahan mengisi rumah tersebut dengan baik. Mungkin rumah tersebut akan dibantu isi oleh pihak keluraga kita, semua pihak bakal kasih masukan yang baik bahkan bisa juga masukan yang kurang baik. Jadi kita harus bisa memfilter sendiri apa isi rumah kita.




Rumah kita mungkin  akan penuh dengan hal-hal yang kita anggap perlu, namun kita juga harus ingat juga apa prinsip rumah tangga kita kedepan. Mungkin, beberapa rumah tangga ada yang memperiotitaskan untuk bersama-sama berdua dahulu, ada yang ingin langsung memiliki keturunan atau ada yang hanya ingin hidup damai selayaknya seperti biasa. Rencana mungkin udah disusun secara rapih dan jelas, namun semua hanya tergantung keputusan Tuhan, kalau Tuhan bilang oke setujuh acc, apa sih yang engga lancar yakan hehehe. Semua manusia sudah merencakan tapi mungkin dimata Tuhan bilangnya harus menunggu dulu, atau harus berusaha lebih dan lebih lagi. Seperti  contoh sebuah Kelaurga A yang baru menikah kurang lebih 3 tahun, sudah merencakan memiliki keturunan langsung setelah menikah. Namun hingga pernikahan tahun ke 2 belum ada juga. Tetap harus bersyukur dan berusaha. Kita harus bisa memahami tubuh kita dulu, diri kita dahulu dan juga berusaha kepada diri kita dahulu, selebihnya berserah kepada Tuhan. Kita mengingikan memiliki keturunan, namun kita tidak punya pola hidup sehat, kita kurang makan yang bergizi dan baik, kita tidak berolahraga, dan bila perlu kita melakukan pemeriksaaan medis, mau bagaimana usaha untuk memiliki keturunan tersebut tercapai. Atau bahkan kita telah melakukan semua hal baik terserbut untuk mendukung kita memiliki keturunan, tapi belum juga kunjung dapat apa yang kita nantikan, mungkin Tuhan lebih tahu bagaimana kedepannya, mungkin Tuhan tau kalau sifat kita, tubuh kita, pikiran kita belum siap untuk memiliki anak kedepan, sehingga Tuhan menunda dahulu agar kita lebih siap secara batin. Tapi yang paling kurang enak adalah Komentator, iya biasanya keluarga kita sendiri. Bukan ortu kita memang tapi pihak-pihak lain yang masih dalam keluarga kita, kenapa belum isi, kenapa belum ini, kenapa bisa pisah dapur, kenapa engga gini-gitu-gono. Setiap orang pasti sudah berusaha, namun terkadang belum berhasil, disinilah peran keluarga sebenarnya untuk membantu secara rohani mungkin seperti mendoakan yang terbabik utk keluarganya.

Kehidupan setelah menikah juga berat dengan pasangan kita, rasa ego diri, rasa bisa melakukan semuanya sendiri, rasa keras kepala dan rasa kurang peka atau bahkan mengingakan pasangan peka terhadap kita. Kembali lagi menurut penulis hubungan itu akan langgeng, lancar dan baik jika kedua belah pihak bisa saling merendahkan ego dan saling mengalah. Karna pernikahan itu bukan pendapat aku yang benar, atau pendapat pasangan kita yang benar, namun jika ada salah satu masalah kita saling mengalah. Si pasangan mengalah dengan pendapatnya, si pihak sebelah juga mengalah dengan pendapatnya, dan akhirnya kedua belah pihak mencari jalan yang baik untuk menyelesaikan permasalahannya. Tapi yang ada saat ini adalah ego yang selalu mendahuli semuanya, tidak bisa dipungkiri apabila ada terjadi suatu perbedaan pendapat atau pandangan, haruslah pandangan kita yang benar dan harus diikuti. Padahal menurut pasangan kita belum tentu hal tersebut benar adanya. Jadi memang lebih baik , jika ada suatu masalah atau problem kita bicarakan dengan pasangan kita, Bukan kita Mendiamkan atau cuek terhadap pasangan kita, bukan juga berharap pasangan kita bisa langsung paham ada persoalan masalah kita. Kita harus memberitahu juga, jangan berharap pasangan langsung peka atau paham terhadap masalah kita. Sehingga kembali lagi, setiap hal yang berbeda pendapat atau pandangan wajib dibahas secara bersama-sama. Karena kita akan hidup bersama selamanya.

Buat keluarga baru atau bahkan calon pengantin baru, sudah siap belum hidup bersama selamanya dengan pasangannya? Sudah siap belum dengan adanya masalah yang muncul di dalam hidup bersama? Sudah siap belum dengan omongan2an yang mungkin kurang berkenan dihati? Tentunya jika sudah hidup bersama dan sudah memiliki tekat untuk bersama sebagai pasangan suami istri harus siap menerima dan menghadapi semua masalah yang ada. 

Btw tetap semangat untuk saling berbahagia bersama selamanya


salam


rws

Kehidupan Setelah Menikah

  Sepertinya seru juga berbicara soal kehidupan setelah pernikahan. Banyak hal-hal baru dan unik dan bahkan belum pernah kita temui. Pernika...